QUICK ESCAPE TO BELITUNG (Part I)

Hey guys, selamat datang di pritha.me; web yang khusus gw dedikasikan untuk mencatat perjalanan-perjalanan gw.

Anyway, cerita pertama kali ini adalah tentang perjalanan singkat gw dan temen-temen PALADA (mapala kampus gw) yang sebenarnya sih awalnya bertujuan untuk hunting foto. Awal mulanya, gw kasihan banget sama kamera mirrorless gw yang cuma duduk anteng di laci lemari dan dipakai cuma beberapa kali dalam sebulan untuk foto produk clay. Dipikir-pikir gw gak pernah benar-benar gunain kamera itu dengan sangat layak LOL. Demikianlah, pada suatu hari yang cerah, gw mendadak nyari temen gw, namanya Paulus. Doi orangnya asik banget, gampang banget diajak jalan; plus, doi jago moto.

Ini dia si Paulus

Awalnya kita sepakat untuk jalan ke Kepulauan Karimun Jawa, gw belom pernah ke sana dan menurut Paulus, di sana asik banget. Gw, Paulus, dan pacarnya sudah rencana untuk jalan sehari setelah Imlek (lumayan, dapat duit dari angpao) tapi rencana tinggal rencana. Ada aja yang bikin nunda dan ujung-ujungnya batal. Secara kita bertiga anak PALADA, terutama sekarang ini lagi pada kurang kerjaan, kita sih cenderung fleksibel. Rapat meja bundar segera dilaksanakan dan dalam kurun waktu kurang dari 1 jam kita memutuskan untuk berangkat ke Belitung lusa paginya. Untuk hemat biaya, kita ajak 1 orang teman lagi, Jansen, dan demikianlah 4 kawan ini berangkat.

31 Januari 2017

Kita sampai di Belitung kira-kira jam 7 pagi. Badan sudah lengket banget plus kita bergadang semalaman. Sebelumnya, di boarding lounge airport, kita gak sengaja kita kenalan dengan putra Belitung yang kerja di maskapai yang kita gunakan dan dia punya usaha rental mobil di Belitung. Kebetulan banget! Sebelumnya kita cari-cari di internet dan rata-rata pasang tarif 250rb/hari (lepas kunci). Lewat Bang Dedi, kita dapat 200rb/hari plus bakal dapat diskon juga. Mobil sewaan sudah ready di bandara dan kita langsung berangkat. Sebelum memulai perjalanan utama, kita stop dulu di warung kopi yang ternyata banyak banget franchisenya di Belitung, namanya Kong Djie.

Kita sarapan sambil menunggu mobil rentalnya ditukar dengan yang lebih besar. Di sini kita juga numpang mandi (ownernya baik banget!!) lalu setelah semua siap, kita cuss brangs.

  1. Danau Biru

Dikenal juga dengan sebutan Danau Kaolin. Karena tempatnya dekat dengan bandara, Danau Biru menjadi destinasi pertama kita. Anyway, Danau Biru cakep banget! Kebetulan juga saat itu langit cenderung cerah jadi pantulan warna birunya cukup terlihat, ditambah lagi pakai kacamata hitam, aduhai.

Sebenarnya tempat ini adalah situs penambangan Kaolin. Ironis banget sih ya, kita menikmati tempat indah seperti ini yang sebetulnya menjadi subjek nyata eksploitasi kekayaan alam. Ketika kita masuk ke area ini, banyak excavator yang sedang bekerja mengeruk kaolin di area tersebut dan memindahkannya ke truk.

Kaolin itu sejenis tanah liat hasil pelapukan bebatuan. Kaolin berwarna putih dan teksturnya lembut seperti pasir. Gw berbincang dengan salah seorang pekerja dan menurut beliau, memang penambangan Kaolin di Belitung ini banyak sekali karena Belitung adalah salah satu daerah di Indonesia dengan kekayaan geografis yang unik, tanahnya banyak mengandung timah dan kaolin. Di Danau Biru sendiri, aktivitas pertambangan katanya sudah dimulai sejak tahun 80an. Kaolin yang diangkut mengandung banyak manfaat, seperti menjadi bahan material untuk pembuatan keramik, kosmetik, plastik, kertas, hingga karet.

  1. Batu Mentas

Kita lanjut menuju Taman Wisata Batu Mentas. Jujur gw lupa berapa lama kita berkendara dari Danau Biru sampai ke sini tapi cenderung gak lama karena selain jalanan Belitung itu SUPER SEPI dan SUPER MULUS, Paulus nyetirnya juga gegayaan salah satu bintang Fast and Furious gitu. Pas kita sampai di Batu Mentas, gw sebenernya agak nggak yakin ini bakal asik karena ketika kita tanya orang setempat, jawabnya juga gak begitu meyakinkan. Walau demikian, kita tahu di sini ada air terjun dan Paulus memulai kelas fotografinya yang pertama: memotret air mengalir. Judulnya gak keren banget ya HAHA.

Kita trekking ke dalam taman wisata tersebut. Jalurnya kelihatan jelas dan gak banyak tanjakan. Di sisi kiri jalur, selalu terlihat aliran sungai yang berasal dari wilayah Gunung Tajam. Airnya jernih dan memantulkan warna biru hijau pokoknya keren banget! Sudah beberapa kali kita horny mau langsung berenang tapi kita terus jalan sampai menemukan spot yang asik untuk diajak foto.

Sungainya asik kan

 

Objek utama

Ini dia spotnya, kayaknya ini top-nya sih, dari sini gak kelihatan ada jalur lain juga. Yep, gak bisa dibilang air terjun lol! Tapi cukup oke untuk latihan mengambil potret air mengalir dengan slow speed. Airnya deras banget di bagian sini dan gw beberapa kali mau jatuh ditambah lagi kepusingan pegangin kamera supaya gak kecemplung air. Repot ya jadi fotografer. Salut sama mereka yang pro!

Setelah kelas selesai, kita langsung cari spot yang asik untuk berenang. I must say, DI SINI KEREN! So refreshing!! Airnya juga manis (yes gw punya kebiasaan minumin air sungai). Pas banget situasi sedang sepi, pokoknya saat itu semua-muanya serasa milik kita banget!

Anyway, di sini juga merupakan tempat konservasi binatang Tarsius tapi Tarsiusnya sedang keluar kandang gak bilang-bilang alias kabur.

  1. Replika SD Laskar Pelangi

Kita sepakat untuk bermalam di daerah Belitung Timur dan dalam perjalanan, kita singgah di replika SD Laskar Pelangi. Retribusi di sini murah, cuma Rp 3.000, di Jakarta uang segitu cuma bisa bayar parkir mobil di Indomart.  Gw merasa gak enak dan paling asing sendiri karena belum pernah nonton film Laskar Pelangi sampai detik ini x_x. Memang filmnya hits banget sih entah kenapa gw gak nonton ya dulu, aneh juga. Whatever. Anyway, baru di tempat ini kita ketemu banyak wisatawan lainnya. Kirain kita doang yang jalan-jalan ke Belitung di weekdays gini. Paulus keluarin perlengkapan motretnya dan kita mulai gegayaan macam-macam.

Ide-ide temen gw kreatif banget. Dari semua foto yang kita ambil, ini yang paling gw suka.

Siapa lagi yang mesti nyontek buat jawab soal 1+1??

 

  1. Pantai Nyiur Melambai

Awalnya kita mau menuju ke Pantai Tambak karena itu juga tempat yang bagus untuk latihan fotografi. Ah, gw belum bilang, salah satu kelas fotografi yang paling penting adalah untuk memfoto milky way. Pantai Tambak dan Olivier jadi option utama tapi jaraknya masih jauh dan hari sudah malam jadi terpaksa kita bermalam di Pantai Nyiur Melambai.

FYI, kita gak nginap di hotel sama sekali, untuk hemat biaya kita selalu bermalam menggunakan tenda. Pantai Nyiur Melambai cukup asik, tapi banyak nyamuk buanget! Sayangnya di sini cukup kotor banyak sampah sih, kebiasaan orang Indonesia yang menyebalkan.

Bikin api unggun untuk bantu usir nyamuk

Saat kira-kira sudah jam 8 malam, Paulus mulai ngajarin gw gimana cara motret milky way. Gw langsung download aplikasi Star Tracker Lite dan mulai ngeker di mana posisi buntut galaksi saat itu (itu lho yang suka kelihatan banyak nebulanya). As expected, hasilnya gak bisa bagus karena di belakang kita ada lampu taman yang cukup bikin teraaaaang banget di hasil foto dan persoalan utama adalah MENDUNG T^T. Ya iya sih, masih bulan segini juga.

Walau demikian, gw sudah seneng banget karena bisa belajar foto bintang. Gw gak nyangka kamera gw capable untuk itu lol.

Di pantai ini sebetulnya terbuka untuk mereka yang ingin camping. Kita sendiri sudah minta izin ke salah satu tetua di sana dan beliau menjamin gak akan dipungut biaya sedikit pun. “Kalau ada yang gak beres, sebut saja nama saya!”, katanya. Tapi kira-kira jam 3 subuh, ada orang yang jalan menuju tenda (gwdenger dari awal karena baru kelar pipis juga tadinya). Doi buka flysheet tenda kita dan ngintip ke dalam. Tapi doi masih sopan gak buka resleting bagian dalam tenda kita. Doi mulai manggil-manggil kita; gw dan Meytha yang ladenin. Dari gaya bicaranya ketahuan banget pemuda itu mabuk. Intinya doi salah satu karang taruna di sana dan meminta bayaran karena sudah bergadang jagain tenda kita. Gw dan Meytha kayak errr… Kita menolak bayar karena sudah merasa minta izin tapi kita tetap berusaha sopan sebagai wisatawan. Gw sebut aja bapak tadi, Pak Mahmud, Pak Mahmud. Mereka kebingungan sih Pak Mahmud siapa, tapi salah seorang temannya ngajak pergi jadi yaudah persoalan selesai dan kita balik tidur.  Pagi-pagi 1 bungkus rokok dan 1 botol air mineral hilang, gak bisa bilang juga siapa yang ambil tapi untungnya cuma itu saja yang hilang bukan yang lain. Kalau ada yang jagain tenda kita, gw berterima kasih.

Anyway, gw cerita ke Paulus dan Jansen, mereka juga bingung Pak Mahmud siapa. Gw salah sebut dong ternyata!

Leave a Reply